( Tribunnusantara.net ), Di saat banjir bandang datang tanpa ampun, menelan harta dan harapan warga, tidak semua tangan menutup mata.
Di antara derasnya air dan jeritan pilu para korban, muncul secercah cahaya kemanusiaan dari mereka yang berhati emas, beberapa karyawan PT PIM yang memilih untuk peduli dan berbagi.
Tanpa sorotan kamera, tanpa embel-embel pencitraan, mereka mengulurkan tangan dengan uang pribadi. Dari hasil keringat sendiri, sembako dibeli, dikemas, lalu diantarkan langsung kepada para korban banjir bandang yang tengah berjuang bertahan di tengah keterbatasan.
Mungkin bagi sebagian orang, bantuan itu tampak sederhana. Namun bagi para korban banjir, beras, minyak, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya adalah penopang hidup—penyelamat dari rasa lapar dan keputusasaan.
Ironisnya, di saat penderitaan rakyat begitu nyata, masih ada pihak-pihak yang sibuk dengan prosedur, rapat, dan janji-janji bantuan yang tak kunjung tiba. Sementara para karyawan ini, tanpa kewenangan besar dan tanpa anggaran negara, justru bergerak lebih dulu atas dasar nurani.
Inilah potret kemanusiaan yang sesungguhnya. Ketika jabatan tak berbicara, hati yang berbicara. Ketika kekuasaan terdiam, kepedulian yang melangkah.
Banjir bandang telah mengajarkan satu hal penting,bahwa kemanusiaan tidak mengenal status, seragam, ataupun jabatan. Ia lahir dari empati, tumbuh dari kepedulian, dan hidup dari keikhlasan.
Kepada mereka—para karyawan PT PIM yang berhati emas terima kasih telah membuktikan bahwa di tengah bencana, masih ada manusia yang memilih menjadi manusia.
Semoga kebaikan ini menjadi inspirasi, bahwa membantu sesama bukan tentang seberapa besar yang kita miliki, tetapi seberapa tulus kita peduli.
( Teuku Saifuddin Alba )
