Opini oleh : Teuku Saifuddin Alba
Musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada 26 November 2025 bukan sekadar peristiwa alam yang datang tanpa makna. Ia hadir sebagai peringatan sunyi, mengetuk kesadaran kita semua bahwa di balik derasnya air yang menghanyutkan rumah, harta, dan kenangan, tersimpan pesan mendalam untuk direnungi bersama.
Tangis anak-anak, wajah letih para orang tua, serta rumah-rumah yang berubah menjadi puing adalah potret nyata penderitaan yang tak bisa diukur dengan kata-kata.
Namun di tengah duka itu, kita sebagai masyarakat Aceh dituntut untuk tidak hanya meratap, tetapi juga berintrospeksi diri. Apakah alam yang murka ini semata kehendak Tuhan, ataukah ada ulah manusia yang selama ini lalai menjaga keseimbangan ciptaan-Nya?
Hutan yang kian gundul, sungai yang dipersempit dan dipenuhi sampah, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan adalah fakta pahit yang tak boleh lagi disangkal. Banjir bandang ini seolah menjadi cermin, memperlihatkan kesalahan kolektif yang selama ini kita anggap sepele. Alam tidak pernah berkhianat—ia hanya bereaksi atas apa yang manusia perbuat.
Namun di balik musibah, Aceh kembali menunjukkan jati dirinya. Gotong royong tumbuh, relawan berdatangan tanpa pamrih, tangan-tangan ikhlas saling menguatkan. Inilah kekuatan rakyat Aceh: solidaritas di saat duka, kepedulian di tengah keterbatasan.
Nilai inilah yang harus terus dijaga dan diwariskan.
Musibah ini hendaknya menjadi titik balik. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen rakyat harus bersatu membangun kesadaran bersama—bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga kehidupan. Kebijakan harus berpihak pada keselamatan rakyat, bukan sekadar kepentingan sesaat.
Akhirnya, kepada seluruh warga yang terdampak, doa dan harapan terus kami panjatkan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi hamba-hamba-Nya, memberikan kekuatan, kesabaran, serta mengganti setiap kehilangan dengan kebaikan yang berlipat.
Penulis : Teuku Saifuddin Alba
Editor : Kanda Ali
