Halmahera Selatan, Tribunnusantara.net – Dugaan praktik pengabaian infrastruktur di Desa Lama Kawasi kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah warga menilai kerusakan jalan, fasilitas umum, hingga rumah-rumah yang makin tidak layak huni bukanlah kejadian alamiah, melainkan bagian dari skenario yang menguntungkan kepentingan perusahaan tambang besar yang beroperasi di wilayah itu, Harita Group.
Warga menyebut, sejak aktivitas tambang masuk dan pembangunan Desa Baru dilakukan, Desa Lama seolah sengaja dibiarkan mati perlahan. Jalan tak lagi diperhatikan, drainase runtuh, rumah retak akibat getaran alat berat, sementara permintaan perbaikan tidak pernah mendapatkan respons berarti dari pemerintah (4/12/2025).
Lebih jauh, kecurigaan masyarakat mengarah pada dugaan bahwa pembiaran ini merupakan strategi halus untuk mengusir warga dari tanah leluhur mereka, agar kawasan Desa Lama dapat dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan.
“Kami bukan orang bodoh. Desa Lama dibiarkan rusak supaya kami pindah, dan tanah ini bebas mereka ambil. Kalau pemerintah peduli, kerusakan ini tidak mungkin dibiarkan selama bertahun-tahun,” ungkap salah satu tokoh warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ironisnya, pembangunan desa baru yang disebut-sebut sebagai “penataan lingkungan” justru dianggap sebagai bentuk relokasi terselubung. Warga merasa diarahkan meninggalkan desa asli mereka—desa yang telah ada jauh sebelum hadirnya operasi tambang.
Kemarahan warga kian memuncak karena pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dinilai menutup mata. Tidak ada langkah tegas, tidak ada investigasi terbuka, dan tidak ada kejelasan mengenai status tanah Desa Lama Kawasi setelah relokasi.
“Pertanyaan besarnya sederhana: kenapa desa yang sudah ada puluhan tahun tiba-tiba dibiarkan hancur? Siapa yang diuntungkan?” tanya warga lainnya.
Hingga kini, masyarakat Kawasi merasa mereka tengah menghadapi bentuk baru penggusuran—bukan dengan kekerasan, tetapi lewat pembiaran yang sistematis. Sementara itu, pihak pemerintah dan perusahaan belum memberikan penjelasan publik yang memadai, meninggalkan misteri besar terkait masa depan Desa Lama Kawasi.
Penulis: Salman Sururi SH.
