Baubau, – Perangkat masjid agung Keraton Wolio menggelar ritual prosesi pergantian katuko di Baruga Keraton Wolio pada Sabtu pagi (14/02/2026). Prosesi tersebut, selain dihadiri oleh seluruh perangkat Masjid Agung Keraton Wolio juga dihadiri Wali Kota Baubau, H. Yusran Fahim, SE, Wakil Ketua DPRD Kota Baubau Adriansyah Farmin, ST, Sekda Kota Baubau La Ode Darus Salam, S.Sos, M.Si dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Dr H Moh Idrus Taufik Saidi, S.Kom, M.Si.
Ritual prosesi pergantian katuko diawali dengan ritual kolemiasana katuko dalam artian dizikirkan selama 4 malam di Galampa Lakina Agama. Kemudian, dilakukan Haroa yang dimulai dengan pembacaan doa oleh salah satu perangkat masjid agung keraton wolio yang ditunjuk serta selanjutnya makan bersama. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi penyerahan katuko dari Wali Kota Baubau H Yusran Fahim, SE kepada perangkat Masjid Agung Keraton Wolio.Namun demikian, sebelum Wali Kota Baubau menyerahkan katuko kepada Lakina Agama, Imam,Hatibi dan moji, terlebih dahulu dibacakan doa oleh salah seorang perangkat Masjid Agung Keraton Wolio yang ditunjuk. Ritual pergantian katuko diakhiri dengan pemberian ucapan selamat.
Usai prosesi pergantian Katuko perangkat masjid agung keraton wolio, Wali Kota Baubau H Yusran Fahim, SE dalam keterangan persnya Sabtu (14/02/2026), mengatakan, pergantian Katuko perangkat masjid agung Keraton Wolio dilakukan atas permintaan internal perangkat Masjid Agung Keraton Wolio untuk diganti dikarenakan sudah usang. Dan selanjutnya katuko akan dimuseumkan tapi untuk penyimpanannya belum dipastikan apakah di masjid atau tempat khusus.
“Tidak ada permasalahan dalam proses pergantian Katuko ini. Dan Pemkot serta DPRD turut menyaksikan langsung prosesi pergantian katuko yang telah berjalan dengan khidmat dan lancar,” ujarnya.
Orang nomor satu di Kota Baubau ini mengungkapkan, di tengah kondisi saat ini maka dalam proses pergantian katuko, perangkat Masjid Agung Keraton Woliio melaporkan kepada kepala daerah dalam hal ini Wali Kota Baubau. Sehingga, semua langkah yang diambiil sudah sesuai prosedur koordinasi yang tepat.
Sementara itu, Katuko atau tongkat dari sudut pandang budaya merupakan Surat Keputusan karena ketika seseorang diangkat atau di makzulkan dari jabatannya di tandai dengan penyerahan/pengambilan tongkat. Katuko atau tongkat pun berbeda untuk golongam kaomu yaitu jabatan lakaina agama,imam,hatibi hulu tongkatnya terbuat dari bahan perak. Sedangkan untuk jabatan moji dari golongan walaka hulu tongkat terbuat dri kuningan. Pergantian katuko masjid agung keraton woio baru kedua kalinya dilakukan dimana yang pertama di tahun 2000an dan kedua pada tahun 2026. Dan untuk katuko yang digunakan yang pertama itu disimpan didalam lemari di galampa lakina agama.
Tim Redaksi
