Gowa, Sulawesi Selatan, tribunnusantara.net —
Suasana kebersamaan dan nilai kekeluargaan akan terasa kental dalam pelaksanaan Tasyakuran Khitanan yang digelar oleh Keluarga Besar Muh. Jufri Dg. Sijaya, Pegawai Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, bersama sang istri Risnanopitasari Dg. Cahaya. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 09 Februari 2026, mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai, bertempat di kediaman keluarga di Dusun Sileo’ 2, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Dalam momen penuh syukur ini, keluarga Muh. Jufri Dg. Sijaya berniat melaksanakan khitanan terhadap tiga orang putra tercinta sekaligus, yakni Nur Salam, Nur Fattah, dan Nur Muhammad Ayyub. Prosesi khitanan ini tidak hanya menjadi bagian dari tuntunan syariat Islam, namun juga wujud rasa syukur keluarga atas amanah dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT.
Acara tasyakuran ini terbuka untuk saudara, kerabat, tetangga, rekan kerja, serta keluarga besar, sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan yang telah menjadi nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Kehadiran para tamu diharapkan dapat mempererat ikatan persaudaraan serta menambah keberkahan bagi ketiga anak yang akan menjalani prosesi khitanan.
Menambah kekhasan acara, keluarga penyelenggara telah menyiapkan santapan siang khas masakan kampung, dengan menu utama Konro’ sapi, kuliner tradisional Sulawesi Selatan yang dikenal luas dengan cita rasa khas dan digemari berbagai kalangan. Selain itu, berbagai menu pendamping lainnya juga akan disajikan sebagai bentuk penghormatan dan jamuan kepada para tamu undangan.
Lokasi pelaksanaan berada di Jalan Permandian Jeknek Tallasak, sebuah kawasan yang cukup dikenal dan ramai dikunjungi masyarakat, baik warga lokal maupun dari luar daerah. Akses yang mudah serta lingkungan yang akrab menjadikan lokasi ini strategis untuk pelaksanaan kegiatan sosial dan kekeluargaan.
Melalui kegiatan ini, Keluarga Muh. Jufri Dg. Sijaya berharap doa restu dari seluruh tamu undangan agar ketiga putra yang dikhitan senantiasa diberikan kesehatan, tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, bangsa, dan negara.
Tasyakuran khitanan ini sekaligus menjadi potret nilai-nilai kebersamaan, tradisi, dan budaya religius yang terus hidup di tengah masyarakat Sulawesi Selatan, serta mencerminkan pentingnya menjaga silaturahmi di tengah dinamika kehidupan modern.
Sumber : Muh. Jufri Dg. Sijaya (Peg.UIN)
Penulis : Mj@.19
Editor : Tim Redaksi
