Aceh, Tribun Nusantara — 28 Desember 2025 — Opini oleh : Teuku Saifuddin Alba
Slogan “TNI dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat” adalah nilai luhur yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. TNI lahir dari rahim rakyat, dibiayai oleh uang rakyat, dan seharusnya berdiri paling depan melindungi rakyat. Namun, slogan mulia itu kembali dipertanyakan ketika video aksi brutal oknum TNI beredar luas di media sosial Facebook.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 25 Desember 2025, di Jembatan Krueng Mane, Kecamatan Muarabatu, Aceh Utara.
Sejumlah relawan kemanusiaan yang hendak mengantarkan bantuan ke Aceh Tamiang, wilayah terdampak bencana, justru dihadang dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Mereka datang bukan membawa senjata, melainkan membawa kepedulian dan harapan bagi sesama.
Ironis. Di tengah duka dan penderitaan rakyat akibat bencana, kekerasan justru datang dari aparat yang seharusnya menjadi pelindung. Video yang beredar menjadi bukti nyata bahwa masih ada oknum yang menyalahgunakan seragam, kekuasaan, dan kewenangan.
Tindakan seperti ini bukan hanya mencederai hati rakyat, tetapi juga merusak marwah institusi TNI secara keseluruhan.
Harus ditegaskan, rakyat tidak membenci TNI. Yang ditolak dan dikutuk adalah oknum yang bertindak di luar batas kemanusiaan dan hukum. Namun, pembiaran terhadap oknum sama artinya dengan merusak kepercayaan publik.
Jika satu seragam melakukan kekerasan tanpa sanksi tegas, maka yang dipukul bukan hanya relawan, tetapi juga rasa keadilan rakyat.
TNI adalah institusi terhormat. Banyak prajurit yang gugur demi bangsa, banyak pula yang setia membantu rakyat saat bencana, tanpa pamrih. Justru karena kehormatan itulah, TNI harus berani membersihkan dirinya sendiri.
Proses hukum yang transparan dan adil terhadap oknum pelaku adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Bencana alam melanda, ekonomi rakyat terpuruk, dan solidaritas sosial menjadi kekuatan utama. Ketika relawan dihadang dan disakiti, maka yang terluka bukan hanya individu, tetapi nilai kemanusiaan itu sendiri.
Sudah saatnya slogan “TNI dari Rakyat untuk Rakyat” tidak hanya menjadi kata-kata indah di spanduk dan upacara, tetapi benar-benar hidup dalam sikap dan tindakan. Rakyat butuh perlindungan, bukan ketakutan. Rakyat butuh pengayoman, bukan kekerasan.
Jika TNI ingin terus dicintai rakyat, maka dengarkan suara rakyat. Karena tanpa rakyat, tidak ada TNI. Dan ketika rakyat menangis, TNI seharusnya menjadi bahu untuk bersandar, bukan tangan yang memukul.
Penulis : Teuku Saifuddin Alba
Editor : Kanda Ali
