Makassar — Musik campur sari menjadi salah satu kesenian tradisional yang hingga kini tetap hidup dan dekat dengan masyarakat, khususnya warga keturunan Jawa yang berada di perantauan. Perpaduan alat musik tradisional dan modern membuat campur sari mampu diterima di berbagai kalangan serta menjadi hiburan rakyat yang merakyat.
Di Kota Makassar, salah satu grup campur sari yang cukup dikenal masyarakat adalah Campur Sari NUWS CALISTA, sebuah sanggar seni milik seniman berdarah Jawa Tengah asal Sukoharjo, Bapak Suparno atau yang akrab disapa Bang Jo.
Campur Sari NUWS CALISTA diketahui telah berdiri sejak tahun 2013 dan hingga kini masih aktif berkarya menghibur masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar. Grup ini diperkuat sejumlah seniman dan seniwati yang terus menjaga eksistensi musik tradisional di tengah perkembangan hiburan modern.
Dari panggung ke panggung, Campur Sari NUWS CALISTA rutin tampil mengisi berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari acara pernikahan, aqiqah, khitanan, hajatan keluarga, hingga kegiatan pejabat dan masyarakat umum dari berbagai kalangan.
Tidak hanya membawakan lagu-lagu Jawa, grup ini juga mampu mengiringi lagu nasional, dangdut, hingga lagu daerah lainnya sehingga lebih mudah diterima seluruh lapisan masyarakat.
“Dengan adanya campur sari ini, semoga masyarakat bisa selalu terhibur dan budaya warisan leluhur tetap lestari serta tidak punah,” ungkap Bang Jo saat ditemui.
Ia juga berharap keberadaan musik campur sari dapat menjadi perekat kebersamaan masyarakat, khususnya warga Jawa yang merantau di Sulawesi Selatan.
“Semoga masyarakat selalu kompak, guyub dan rukun. Melalui campur sari ini juga rasa rindu terhadap kampung halaman bisa sedikit terobati, khususnya bagi masyarakat Jawa di perantauan,” tambahnya.
Keberadaan Campur Sari NUWS CALISTA menjadi bukti bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Di tengah derasnya perkembangan musik modern, campur sari tetap hadir sebagai hiburan rakyat yang mampu menyatukan budaya, kebersamaan, dan nostalgia akan tanah kelahiran.
Sumber : Redy Rangga
Editor : Tim Redaksi
