Nias Barat, ( Tribunnusantara.net ) Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Barat merespons cepat keluhan terkait kondisi SMP Negeri 4 Lolofitu Moi di Desa Wango yang terancam longsor dan mengalami kendala akses jalan.
Keluhan tersebut sebelumnya mencuat ke publik karena proses belajar mengajar siswa dinilai terancam akibat kondisi tanah yang labil serta fasilitas akses yang kurang memadai.
Menindaklanjuti pemberitaan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Barat di bawah kepemimpinan Plt. Kepala Dinas, Parlinus Gulo, S.Pd., M.Pd., bersama Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Ir. Thesa Binsavat Harefa, S.T., turun langsung ke lokasi pada Kamis, 19 Februari 2026. Kunjungan lapangan ini dilakukan untuk memastikan secara langsung kondisi sekolah serta mengkaji langkah penanganan yang dapat dilakukan.
Dalam keterangannya, pihak dinas menjelaskan bahwa kondisi tanah di lokasi sekolah tergolong labil dan kurang kokoh, sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan secara sederhana. Struktur tanah yang mudah bergeser menjadi tantangan utama, terutama saat musim hujan yang berpotensi memperparah longsor dan mengganggu aktivitas belajar siswa.
Sebagai langkah awal, dinas menyarankan pembuatan pembatas di bagian belakang sekolah serta pengalihan aliran air ke jalur lain agar tidak masuk ke halaman sekolah. Sementara itu, untuk persoalan akses jalan yang rusak dan rawan longsor, pihak dinas menilai hal tersebut menjadi kewenangan instansi teknis terkait kebencanaan atau Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Meski demikian, Dinas Pendidikan menegaskan tetap berupaya mencari solusi terbaik. Pada Tahun 2026 melalui Program Revitalisasi Pemerintah Pusat, Sekolah tersebut disebut telah masuk dalam skala prioritas penanganan sarana dan prasarana khususnya Bangunan Gedung pendidikan . Upaya ini diharapkan menjadi solusi jangka menengah guna menjamin keamanan dan kenyamanan siswa serta tenaga pendidik.
Kepala SMP Negeri 4 Lolofitu Moi saat dikonfirmasi membenarkan adanya kunjungan dari pihak dinas dan menyampaikan apresiasi atas respons cepat yang diberikan. Ia juga menjelaskan bahwa lokasi sekolah tersebut telah empat kali dipindahkan, namun kondisi tanah di area yang dihibahkan tetap mengalami pergeseran.
Pihak sekolah dan masyarakat setempat berharap pemerintah dapat segera melakukan penanganan menyeluruh agar proses belajar mengajar tidak terus terganggu. Apabila ke depan kondisi tidak memungkinkan untuk ditangani secara teknis, maka akan dipertimbangkan pencarian lokasi baru yang lebih kokoh dan aman demi keberlangsungan pendidikan siswa di wilayah tersebut.
( Odal Zai )
