Cirebon, Acara ini memperingati HUT ke-34 Sanggar Seni Sekar Pandan dengan pagelaran Wayang Wong dan Festival Tari Tradisional.

Jadwal terbagi dua sesi:
festival Wayang Wong & pentas seni pukul 13.00–17.00, diikuti pagelaran utama “Runtut Raut Sauyunan” pukul 19.30–22.00.

Lokasi di Keraton Kacirebonan, Jalan Pulasaren No. 49, Pekalipan, Cirebon, yang merupakan salah satu dari tiga keraton utama di kota tersebut.

Makna Acara
“Runtut Raut Sauyunan” menggambarkan perjalanan rasa, gerak, dan warisan budaya Cirebon melalui pertunjukan tradisional.
Sanggar Seni Sekar Pandan membuka kesempatan partisipasi komunitas untuk memperkaya festival ini.

“Runtut Raut Sauyunan” adalah pepatah Sunda kuno yang berarti “hidup rukun bersama” atau “hidup damai dalam kebersamaan”.

Asal dan Makna
Ungkapan ini merupakan ajaran leluhur (karuhun) masyarakat Sunda, menekankan gotong royong, saling asah-asuh-asih, serta harmoni sosial seperti dalam silih asah, silih asuh, silih asih.
“Runtut” artinya rukun atau seia sekata,
“raut” berarti rapi dan selaras, sementara “sauyunan” menyiratkan keselarasan dan kebersamaan.
Dalam konteks acara di Keraton Kacirebonan,
frasa ini melambangkan perjalanan budaya Cirebon yang guyub rukun.
Sultan Kacirebonan IX saat ini adalah
Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat,
yang naik tahta sejak 1997.
Peran Utama
Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat , berperan sebagai penjaga nilai-nilai luhur budaya Cirebon, khususnya di lingkungan Keraton Kacirebonan, melalui pelestarian tradisi, ritual, dan seni seperti tari topeng.
Sebagai sultan simbolis, ia mengemban amanah menjaga harmoni sosial dan warisan leluhur, termasuk acara seperti
“Runtut Raut Sauyunan”
yang mencerminkan filosofi kebersamaan.
Meski tidak memiliki kekuasaan politik, ia aktif dalam kegiatan komunitas keraton untuk memastikan budaya tetap relevan di era modern.
Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat berperan sentral sebagai penjaga budaya Cirebon melalui Keraton Kacirebonan saat ini.
Pelestarian Tradisi
Ia memimpin ritual adat, festival seni seperti “Runtut Raut Sauyunan”, dan pentas Wayang Wong untuk menjaga harmoni sosial serta warisan Sunda-Cirebon.
Sultan aktif melibatkan generasi muda keraton dalam latihan seni tradisional agar nilai leluhur seperti silih asah-asih-asuh tetap relevan.
Kontribusi Komunitas
Ia mendorong kolaborasi dengan sanggar seni seperti Sekar Pandan dan pemerintah lokal untuk acara budaya tahunan, memperkuat identitas Cirebon di era moderen.
( Yudi )
